Inilah 5 Penyebab HIV pada Pria dan Cara Cegah Penularannya
Penyebab HIV pada pria rata-rata berasal dari perilaku seksual yang berisiko dan kurangnya pemahaman terkait penularan virus. Pria sendiri masih menjadi kelompok dengan angka infeksi HIV tertinggi di Indonesia.
Itu sebabnya, memahami penyebab HIV pada pria dan cara pencegahannya harus Anda ketahui dengan baik. Sehingga, dapat melindungi diri, keluarga dan pasangan dari infeksi berbahaya tersebut.
Apa Saja Penyebab HIV pada Pria yang Umum Terjadi?

Berikut beberapa penyebab HIV pada pria yang umum terjadi, antara lain:
1. Hubungan Seksual Tidak Aman
Penyebab HIV pada pria yang paling umum dikarenakan hubungan seksual yang tidak aman. Penularan terjadi ketika cairan tubuh yang mengandung virus, seperti air mani, cairan pra-ejakulasi, atau cairan vagina masuk ke dalam aliran darah orang lain. Biasanya melalui selaput lendir (mukosa) di rektum, vagina, atau penis, atau melalui luka pada mulut.
Hal tersebut dapat beresiko tinggi jika:
- Melakukan hubungan seksual vaginal atau anal tanpa menggunakan kondom secara konsisten dan benar.
- Memiliki banyak pasangan seksual.
- Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang status HIV-nya tidak diketahui atau positif HIV dan tidak menjalani pengobatan.
2. Penularan dari Ibu ke Anak (Perinatal)
Meskipun ini adalah jalur penularan yang utama terjadi sebelum atau saat proses kelahiran dan melalui air susu ibu, seorang pria dapat menjadi positif HIV. Kemudian menjadi sumber penularan kepada pasangannya, yang kemudian dapat menularkan ke anak mereka.
Namun, dari sudut pandang penyebab HIV pada pria itu sendiri, penularan ini tidak relevan, karena ini adalah rute penularan kepada anak. Sebagai pria, Anda perlu fokus pada pencegahan penularan kepada pasangan Anda.
3. Transfusi Darah atau Produk Darah Tidak Aman
Sebelum adanya skrining darah modern, penularan HIV melalui transfusi darah merupakan risiko signifikan. Saat ini, risiko ini sangat rendah di negara-negara dengan sistem kesehatan yang maju. Di mana semua darah yang didonasikan dan produk darah lainnya (seperti plasma atau trombosit) wajib diperiksa secara ketat. Tujuannya untuk mendeteksi keberadaan HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis sebelum digunakan untuk transfusi.
4. Penggunaan Jarum Suntik Bersama
Penyebab HIV pada pria juga bisa terjadi akibat penularan melalui penggunaan jarum suntik, alat suntik, atau peralatan lain yang digunakan untuk menyuntikkan obat, kemudian digunakan oleh orang lain.
Pria yang menggunakan narkoba suntik dan berbagi alat suntik beresiko sangat tinggi karena virus dapat berpindah melalui sisa darah pada peralatan tersebut. Selain pengguna narkoba, Anda juga harus waspada terhadap peralatan non-steril dalam praktik tindik, tato, atau akupunktur.
5. Luka Terbuka atau Luka pada Area Kelamin
Luka terbuka, terutama pada penis atau area kelamin lainnya (seperti luka akibat penyakit menular seksual seperti sifilis atau herpes), dapat menjadi pintu masuk yang lebih mudah bagi virus HIV selama hubungan seksual. Luka ini memudahkan cairan tubuh yang mengandung virus untuk mencapai aliran darah. Anda harus segera mengobati luka apapun pada area genital dan menghindari kontak seksual sampai sembuh.
6. Paparan di Tempat Kerja (Occupational Exposure)
Jalur penularan ini umumnya terjadi pada petugas kesehatan (dokter, perawat, teknisi laboratorium, dll.) ketika terjadi kecelakaan seperti tertusuk jarum suntik bekas pasien yang terinfeksi HIV (needle stick injury).
Risiko penularan ini relatif kecil namun nyata dan memerlukan penanganan segera (post-exposure prophylaxis atau PEP). Bagi Anda yang bekerja di bidang ini, kepatuhan terhadap prosedur keselamatan kerja standar (Universal Precautions) sangatlah penting.
Bagaimana cara tepat mencegah penularan HIV pada pria?
Pencegahan penularan HIV bergantung pada pengurangan risiko melalui edukasi dan perubahan perilaku.
Anda dapat secara signifikan mengurangi risiko terinfeksi HIV dengan mengikuti langkah-langkah berikut:
- Penggunaan Kondom Secara Konsisten: Selalu gunakan kondom lateks atau poliuretan baru setiap kali berhubungan seksual vaginal, anal, atau oral. Kondom yang digunakan secara benar adalah cara paling efektif untuk mencegah penularan HIV melalui seksual.
- Tes HIV dan Konseling: Lakukan tes HIV secara rutin, terutama jika Anda memiliki lebih dari satu pasangan seksual atau pasangan Anda memiliki risiko. Mengetahui status Anda dan pasangan Anda adalah kunci. Jika Anda positif, segera mulai pengobatan Antiretroviral (ARV). ARV efektif menekan jumlah virus hingga ke tingkat yang tidak terdeteksi (Undetectable = Untransmittable atau U=U), yang berarti Anda tidak dapat menularkan virus secara seksual.
- Hindari Penggunaan Jarum Suntik Bersama: Jika Anda menyuntikkan obat, jangan pernah berbagi jarum suntik atau alat suntik lainnya. Gunakan peralatan yang steril dan hanya sekali pakai.
- Pencegahan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis): Jika Anda berisiko tinggi terinfeksi HIV (misalnya, pasangan Anda positif HIV, atau Anda memiliki banyak pasangan seksual dan tidak selalu menggunakan kondom), bicarakan dengan dokter Anda tentang penggunaan PrEP. Ini adalah obat ARV harian yang dapat mengurangi risiko penularan hingga lebih dari 90%.
- PEP (Post-Exposure Prophylaxis): Jika Anda baru saja terpapar HIV (misalnya, kondom robek saat berhubungan seksual dengan pasangan yang berisiko, atau kecelakaan tertusuk jarum), Anda harus segera menghubungi dokter atau fasilitas kesehatan dalam waktu 72 jam untuk memulai PEP, pengobatan darurat selama 28 hari yang dapat mencegah infeksi.
- Pengobatan PMS Lain: Obati semua Penyakit Menular Seksual (PMS) lainnya dengan segera, karena keberadaan luka akibat PMS dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV.
Dengan memahami penyebab HIV pada pria dan mengambil tindakan pencegahan yang konsisten, Anda memainkan peran penting dalam mengakhiri epidemi HIV.




